Tampilkan postingan dengan label Bercuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bercuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2009

Mata Mengadu,.. Mulut pun Berdoa 2

Pagi ini, kusaksikan betapa Tuhanku telah menyempurnakan nikmatnya bagiku, di sekitarku telah kutatap dan kupandangi, yang ada adalah keindahan dan nuansa pagi yang begitu menakjubkan bagiku, ini merupakan sarapan pagi yang amat memuaskan bagiku.

Menatap mentari pagi yang indah dan cerah, menyibak kemilau embun pagi yang melekat di dedaunan, menetes dengan segenap kejernihannya. Seolah dedaunan hijau tersebut berbisik lembut bahwa dirinya telah merasakan segarnya nuansa pagi ini. Sesekali semilir angin pagi mengulas-ulas mata ini, hingga kesejukan bercampur kehangatan mentari yang menyingsing dari upuk timur begitu terasa.

"Subhanallah, Ya...Rahman wa Ya...Rahim... Puji syukurku Aku persembahkan kepadaMu yang telah memberiku nikmat yang sangat berarti pagi ini. Mungkinkah Aku dapat membalas nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku?"


Memang sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri bagi si Mata untuk pagi ini, karena biasanya yang dia saksikan bukannya pemandangan alami yang indah yang dia saksikan melainkan pemandangan yang jika dikatakan alami juga alami, namun alaminya bukan pada tempatnya. Kenapa demikian, karena yang amat sering di saksikan oleh si Mata selama ini kebanyakan mulai dari bagun tidur sampai ia terlelap lagi di malam hari kebanyakan keindahan-keindahan yang semuh.

Hampir di setiap sisi kota ini dapat di saksikan penampilan yang Anak cucu Adam tampilkan, muda maupun yang tua, mereka memperlihatkan diri mereka selayaknya bahwa yang menyaksikannya itu adalah semua pihak yang berhak, terutama bagi kaum hawa yang senantiasa memperlihatkan keindahan dan perhiasan yang mereka miliki bukan pada muhrimnya, itu kan dosa kata pak Ustadz. Tapi memang sih Agama ini telah mengaturnya sedemikian rupa bahwa baik Laki-laki maupun perempuan, hendaklah mereka menjaga pandangan mereka dan menutup Auratnya dari yang bukan muhrimnya.

"Tapi kenyataannya, aku masih hampir setiap hari menyaksikan aurat yang tersingkap di hadapan aku, emangnya saya ini bisa menutup terus kelopak aku agar jangan terbelalak sepanjang hari apa?, ato nunduk terus? wah bisa gawat kalau gitu. Bisa-bisa nantinya nabrak pohon tuh, yah...payah juga ya. Padahal aku juga kan berhak tuk melihat"

di tengah gumamnya sang Mata, ternyata diam-diam mulut mendengarkan kata-kata yang menadakan keluhan si Mata tersebut.
"Wai...sobat makanya liat aja yang wajar-wajar, tataplah yang halal bagimu, kamu kan bisa memilah-milah, ya kan?"

Hening sejenak, si Mata ternyata baru sadar kalau sedari tadi dirinya telah diperhatikan dan kata-katanya telah disimak dan didengarkan oleh si Mulut.

"Eits, tunggu dulu sobat, emang sih ada benarnya yang kamu bilang bahwa memilah-milah objek yang dapat dipandangi, tapi sadar atau tidak, tak selamanya aku dapat menjaga dan memilahnya untuk ku. Aku kan juga bisa khilaf?!"

"Makanya sobat, banyak-banyak mengingat kebesaran-Nya dan menyebut asma-Nya, agar kamunya ga terus-terusan terseret oleh keindahan semu dan durjana dunia." Nasihat si Mulut.

"Iya juga juga sih, bener tuh apa yang kamu katakan. Mudah-mudahan aja Aku dapat senantiasa bermuhazabah dan dapat menerapkan Gaddul bashar, agar ga ke tipu oleh tipu muslihat para Laknatullah Alaih. Tapi ngomong-ngomong, emang kamu dah ngelakuin apa yang barusan kamu katakan kepadaku? kamu juga mesti hati-hati loh dengan mereka yang sering menghantuiku dengan keindahan dan kemolekannya, karena tanpa kamu sadari nantinya kata-kata pemujaan yang tak semestinya dan hujatan bisa saja langsung keluar darimu. Bener kan?"

"Iya yah..." Kata si Mulut sambil merenung.

"Tapi aku kadang nyeronong berkata-kata itu semua kebanyakan dikarenakan oleh ulah kamu juga kan yang sering ceroboh?"

Tiba-tiba saja si Mulut mengagetkan si Mata sekaligus menyadarkannya kalau dirinyalah sebenarnya sumber penyakit alias sumber masalah yang membawa si Mulut ke lembah kenistaan, karena baginya si Mata sering melakukan hal-hal yang dapat merangsang dirinya tuk melontarkan perkataan yang tidak senonoh atas informasi yang diterima dari si Mata.

"Wah... betul jaga kali ya, kata si Mulut. Tapi... apa emang Aku seperti itu ya?... hmm.... Ya Allah.... kembali Aku meminta kepada-Mu, Janganlah Engkau jadikan Aku ini sebagai hambamu yang lalai, Berilah kekuatan dan keteguhan-Mu kepadaku agar Aku dapat tegar menghadapi setiap realita hidup ini. Ya, Muhaimin... Berikanlah kesabaran kepadaku agar Aku dapat bersabar dalam menyaksikan segala kejadian yang ada di hadapanku agar saudaraku si Mulut dapat terhindar juga dari azab-Mu."

Saat si Mata Mengadu kepada Allah dengan jalan berdoa, secara diam-diam si Mulut pun Berdoa dan mengaminkan atas apa yang telah didengarnya oleh si Mata.
"Ya Allah ... terimalah doa saudaraku si Mata... karena sesungguhnya apa yang telah di katakanya itu benar adanya, dan Aku ini termasuk hamba-Mu yang takut dengan azab-Mu."

==============###==========###================




























[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 27 Februari 2009

Cinta Mengalahkan Belenggu Kemalasan




Ketika berbicara cinta setiap yang mendengarnya pasti akan tertarik tuk membahasnya kecuali yang yang tidak normal. Karena cinta selalu ada pada setiap makhlukNya yang ada di muka bumi ini. Kali ini cinta yang saya ingin bahasakan bukan cinta yang lagi marak di kalangan muda mudi yang lagi kasmaran. Akan tetapi cinta yang ada pada diri seorang saudara yang berusaha tuk mencintai sesuatu yang kebanyakan orang membecinya, benci bukan karena tidak baik namun karena katanya sulit tuk dipahami. itulah yang terjadi di pada salah seorang saudaraku saat ini.

Tetapi hari ini telah tampak diwajahnya betapa ia bisa melawan kebenciannya terhadap sesuatu yang tengah berusaha dicintainya, yakni salah satu mata kuliah yang notabene membingungkan bagi yang suka bingung dan menjengkelkan bagi yang senang terhadap kejengkelan tanpa usaha. Saat ia berhadapan dengan sosok yang namapak di sehelai kertas, raut mukanya sempat mengerut sama seperti ketika sementara belajar biasa di kelas, tapi setelah bersalaman dengannya ia pun tersenyum manis walau terkesan dipaksakan.

Selama berinteraksi dengan lembaran kertas putih yang berisi coretan tinta hitam, saya perhatikan ia selalu menampakkan semangatnya dan berusaha untuk tidak mengeluh, disertai buliran senyum kecil yang keluar dari bibirya.

Disana, ia sedang asik berdiskusi dengan coretan-coretan yang ada di hadapannya, sambil saya menatap ke seluruh ruas ruangan, sesekali saya melemparkan pandangan ke arahnya, semangatnya pun semakin menggebu-gebu tak seperti biasanya.

Walaupun orang-orang yang berada di sekelilingnya banyak melontarkan keluhan, namun ia tetap menampakkan semangatnya, rupanya ia telah mencurahkan rasa cintanya kepada mata pelajaran tersebut dan sudah mulai saling mengenal satu sama lain, cintanya kini telah mengalahkan kebenciannya dan membuka tabir belenggu kemalasan pada dirinya untuk berinteraksi dengan mata kuliah tersebut. walau memang terasa pahit baginya tapi kini kelihatannya ia sudah merasa enjoy dengan cintanya kepada mata kuliah yang selama ini sangat membingungkan dan memusingkan itu baginya.

Semoga hasil interaksinya dengan mata kuliah tersebut berbuah hasil yang memuaskan, tapi saya yakin dibenaknya tersimpan keyakinan bahwa apapun yang ia peroleh nantinya dari hasil interaksinya yang terakhir ini dapat diterimanya dengan penuh kelapangan.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 20 Februari 2009

Kedalaman Ilmu, Bukan Mendekatkan Kesombongan


Adalah hal menarik yang saya saksikan hari ini, kendati hal ini saya anggap hanyalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu dipermasalahkan, tetapi saya tetap tertarik untuk mencoba mengurai benang merahnya agar tidak terjadi kesalah pahaman. Nah cerita kejadiannya seperti ini:
Saat membuka blog saya, di kotak Kabar pengunjungnya saya jumpai komentar yang menurutku cukup menarik dari salah seorang pengunjung yang tidak berani memuat identitasnya alias menggunakan identitas samaran. di sana dikatakan bahwa "jangan asal curi kode tanpa seizin pemilik blog". Memang ada benarnya perkataan ini, tapi perlu diperjelas lagi. Kenapa saya katakan demikian karena memang saya pernah mengopi sebuah kode banner, tapi bukan untuk ditempatkan diblog melainkan mengopinya ke Word sheet untuk dicocokkan dengan kode yang saya muat diblog saya.

Waktu itu kode yang saya muat tidak dapat menampilkan banner yang sesungguhnya melinkan eror. Maklum (orang baru belajar dan mengenal blog, g sama dengan blogger yang lain yang jauh lebih hebat), makanya saya mencoba mencari kode di blog lain untuk di cocokkan dimana letak kesalahan saya. Akhirnya ketemu juga banner yang sama di salah satu blog dari hasil pencarian tadi, kemudian saya mencoba mencari kode yang sama untuk dicocokkan, dan setelah saya menemukan letak kesalahan saya, kode yang dicopy tadi pun saya langsung hapus. Tapi ternyata pemilik blog tadi mengira kalau codenya dicuri.

Terkadang manusia ketika telah merasa memiliki sesuatu yang lebih, cenderung meremehkan sesamanya, meskipun tidak semua memiliki sifat demikian. Akan tetapi bagi saya manusia yang bijak adalah manusia yang memiliki sifat alamiah seperti yang telah dicontohkan oleh alam ini, hal mana tanaman padi yang tumbuh, semakin berisi semakin menunduk pula tanaman tersebut. Semoga manusia dapat belajar dari alam dan zaman sebagaimana yang diutarakan oleh Al Qarni dalam bukunya Belajar dari Alam dan Zaman, Beliau mengisyaratkan agar kita senantiasa peka terhadap lingkungan dan alam ini dengan menjadikan pelajaran setiap penomena alam yang terjadi di sekitar kita, serta menjadikan pengalaman sejarah sebagai pelajaran, sehingga kita dapat menjadi manusia yang lebih berkualitas dari sebelumnya.

Kejadian ini merupakan pelajaran bagi saya, walaupun hal ini bagi saya hanya merupakan hal yang biasa tapi cukup dijadikan sebagai bahan renungan, semoga saya bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Dapat lebih tawadu dan lebih bijak dalam segala hal.

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 17 Februari 2009

Mata Mengadu, Mulut pun Berdoa 1


"Setiap Hari mereka menjajakan keindahan yang mereka miliki, padahal sesungguhnya keindahan mereka hanyalah secuil dari keindahan yang dimiliki oleh Pemilik dari segala keindahan yang kalian tawarkan kepadaku."



"Bagaiamana diriku dapat membeli keindahan yang mereka obral dengan murah, sedangkan keindahan yang dijanjikan-Nya kepadaku begitu mahal dan tiada tara keelokannya? bahkan dapat membuat bibir tak berkutik dan membisu seribu bahasa menyaksikan pesona keindahan dan kecantikanya."

"Bagaiamana diriku dapat mencintai di kala yang aku cintai hanyalah menyimpan sebutir cinta di padang pasir cinta milik Tuhanku, yang dari-Nya aku selalu memperoleh cinta dan kasih sayang yang tiada putus-putusnya? ehm....."

Demikian ungkapan yang dilontarkan oleh sang Mata kepada dirinya dengan harapan Tuhannya dapat mendengar gumamannya tersebut. Akan tetapi belum sempat memperoleh jawaban dari Tuhan-Nya, perkataannya tadi seraya ditanggapi oleh sang Mulut,

"Benarkah apa yang kau katakan tadi wahai Mata? Pernahkah kau melihat dan menyaksikannya, sehingga kau berani berkata seperti itu?"

"Walau aku belum pernah menyaksikannya (keindahan itu), akan tetapi aku yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa janji Tuhanku tak akan pernah diinkari-Nya dan pasti benar adanya. Tidakkah kau membaca kitab suci-Nya? dan apakah kau tiada melihat segala yang tercipta di muka bumi ini hanyalah bersifat sementara dan semu adanya?"

Jawabnya santai yang diiringi dengan nada dan gaya yang meyakinkan. Meski demikian Mulut belum dapat merasa yakin dengan perkataan Mata tadi yang dianggapnya hanyalah harapan semu dan seolah-olah hanya ada di dalam cerita dongeng.

Eits.....tunggu kisah selanjutnya. Aku buru-buru soalnya jadi belum sempat lanjutkan tunggu ya....!

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 11 Februari 2009

Victim of Valentine Day



Valentine merupakan salah satu ajang bagi manusia untuk berbagi cinta dan kasih sayangnya kepada yang dicintainya, terutama bagi sepasang kekasih atau muda mudi yang lagi dimabuk asmara. Begitulah kata sebahagian orang dalam menanggapi hari valentine. Ini pulalah yang menyebabkan kebanyakan remaja yang turut merayakan hari valentine menjadi korban pergaulan bebas yang diidentikkan dengan penyaluran kasih sayang secara mendalam. Padahal hal tersebut justru hanya merupakan tempat pelampiasan napsu asmara dan birahi.


Tidakkah kita berpikir bahwa kasih sayang itu diberikan kepada orang-orang terdekat atau orang-orang yang dicintai dan dikasihi semestinya tidak mengenal waktu, karena sesungguhnya setiap manusia diciptakan oleh Sang Khalik yang Maha Pengasih telah disempurnakan dengan sebahagian besar sifat-sifatNya termsuk sifat Pengasih dan Penyayang. Di sini penulis tidak mengatakan bahwa mengasihi dan menyayangi pada hari valentine itu salah, karena itu merupakan hal yang sifatnya fitrawi dan manusiawi, namun yang perlu ditekankan adalah mengapa harus di hari valentine yang seolah-olah dijadikan sebagai ajang pelampiasan rasa kasih dan sayang sebagian dari manusia yang merayakannya…?. Sampai-sampai sesuatu yang sangat dan paling berharga baginya pun terkadang diberikan kepada orang yang dikasihinya sebagai wujud kasih sayangnya, terutama bagi muda-mudi, yang sebenarnya belum semestinya mereka berikan kepada yang dikasihinya.

Inilah salah satu hal yang semestinya disadari oleh kita yang terkadang dikuasai oleh keinginan dan perasaan tanpa harus berpikir kritis terlebih dahulu atas apa yang kita lakukan. Memang perlu diakui bahwa ketika seseorang telah terbawa oleh arus perasaan dan keinginannya yang menggebu-gebu tanpa dibarengi oleh nalar berpikir yang jernih dalam memilah dan melakoni sesuatu dalam kehidupan ini, saat itulah manusia biasanya melakukan hal-hal yang sebenarnya fatal bagi dirinya, tetapi hal itu justru merupakan hal yang terbaik baginya saat itu karena telah dibuat tidak sadar dan terbuai oleh keinginan dan perasaan yang sedang menggebu-gebu pada dirinya. Sehingga saat pikirannya mulai berfungsi normal dan berfungsi secara jernih, disitulah baru mereka sadar bahwa apa yang telah dilakukannya itu ternyata telah merusak dirinya sendiri.

Kalau memang Anda ingin memberikan kasih sayang yang lebih kepada orang yang dicintai, bukankah lebih baik kita berpikir bijak bagaimana cara yang baik untuk memberikan kasih sayang itu setiap harinya kepada orang yang kita cintai dan sayangi, misalnya istri/suami, orang tua, sanak saudara dan teman, yang dapat berkesan dihatinya dan membuatnya merasakan hubungan Anda dengannya itu senantiasa bernilai spektakuler baginya. Sehinga hubungan yang kita bina dengannya senantiasa membawa kebahagiaan dan keceriaan tersendiri baginya dan bagi diri kita sendiri, yang akhirnya membuat langgengan hubungan kasih sayang kita dengannya.

Tahukah Anda bahwa apa dan bagaimana velentine itu sesungguhnya? dan mengapa valentine day itu ada, kemudian apakah hal tersebut merupakan budaya kita sebagai orang timur atau bukan dan dari mana asal muasalnya…? Sehingga Anda merayakannya. Jangan sampai kita hanyalah salah seorang di antara sekian banyak orang yang menjadi korban ketidak tahuan dan hanya ikut-ikutan kepada orang yang juga tidak mengetahui hakekat valentine itu sendiri. Mari kita pikir dulu matang-matang dengan menggunakan nalar dan pikiran yang jernih agar kita tidak menjadi orang yang hanya senantiasa ikut-ikutan dan tidak terbawa arus perasaan dan emosi dalam melakukan sesuatu, yang justru akhirnya membawa dampak negatif bagi diri kita sendiri.

Sejarah Valentine Day
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. Perayaan Lupercalia ini adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Naudzu billah min zalik, hal seperti itu kah yang kita harapkan? Dan apakah kebiasaan yang menjadi ritual keagamaan bagi umat yahudi dan nasarah seperti di atas yang kita juga ingin ikut-ikutan merayakannya? Tentu tidak. Nah, Sebagai seorang muslim kita hendaknya menginat pesan Rasulullah saw berikut:
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”

Kemudian, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”

Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Allah SWT dalam firmannya :
”Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (Q.S. Al- Isra : 36)

”Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Al-Imran: 85)


By : شمسول الإسلام

[+/-] Selengkapnya...

Kabar Pengunjung

Betapa hidup ini menjadi damai ketika setiap insan menanamkan kecintaan kepada Sang Pemilik Cinta Sejati dan kepada Sesamanya

  © Blogger templates Blogger Edit by peCinta Kedamaian

Back to TOP